Viral! Dampak Teror Bom Wanita Bercadar Diusir dari Terminal Gayatri, Begini Kronologinya

0
61

Berita Gaya.com – Jakarta– Maraknya aksi bom bunuh diri yang belakangan menimpa Indonesia membuat masyarakat menjadi resah. Akibatnya, masyarakat menjadi lebih waspada dan cenderung lebih sensitif terhadap sejumlah golongan yang dianggap mengarah sebagai pelaku teroris. Seperti baru-baru ini terjadi, seorang wanita bercadar diamankan perugas dinas perhubungan lantaran gerak-geriknya dianggap mencurigakan.

Sebuah video berdurasi 1 menit 48 detik memperlihatkan seorang wanita bercadar digiring keluar dari atas bus antar-kota di Terminal Gayatri, Tulungagung ramai diperbincangkan warganet. Dalam video itu, tampak seorang wanita yang mengenakan gamis dan cadar warna hitam turun dari bus di Terminal Tulungagung. Kakinya hanya dibalut kaos kaki. Dia tampak diarahkan oleh empat petugas Dinas Perhubungan yang salah satunya membawakan tas ransel warna merah muda milik perempuan itu. Mereka berjalan menjauhi bus menuju lokasi terminal.

Banyak yang menduga jika pengusiran yang dilakukan terhadap wanita bercadar di video tersebut merupakan dampak maraknya aksi bom bunuh diri belakangan ini. Masyarakat yang ketakutan menganggap setiap gerak-gerik wanita bercadar atau laki-laki bercelana cingkang sebagai pelaku teroris. Namun, aksi pengusiran terhadap wanita bercadar di Terminal Gayatri itu pun langsung dibantah pihak kepolisian.

Kapolres Tulungagung Ajun Komisaris Tofik Sukendar membenarkan adanya peristiwa seperti di dalam video yang tersebar. Namun dia membantah narasi dalam video yang menyebut wanita bercadar itu diusir dan dilarang naik bus oleh penumpang lain.

“Berita tentang penurunan perempuan bercadar itu tidak benar, apalagi sampai dilarang naik bus,” kata Tofik, Selasa (15/05/18).

Tofik mengatakan wanita itu juga tidak diamankan polisi seperti yang beredar. Dia hanya dimintai keterangan oleh petugas Dinas Perhubungan Kabupaten Tulungagung terkait tujuan perjalanannya. Wanita bercadar tersebut belakangan diketahui berinisial SAN dan merupakan seorang santri.

Baca Juga: Lakukan Aksi Diluar Tema Debat, Paslon No Urut 3 Picu Kericuhan Debat Pilgub Jawa Barat Putaran Kedua

Mulanya SAN diketahui duduk di tangga depan pagar ruang tunggu penumpang. SAN hanya diam sambil memainkan jari-jarinya. Beberapa awak bus dan calon penumpang yang melihat gerak-gerik SAN melapor kepada petugas Dinas Perhubungan yang berjaga di terminal. Petugas pun mendatangi SAN dan mengajak pindah ke tempat tunggu penumpang.

Setelah 15 menit berada di tempat tunggu, SAN tiba-tiba naik ke atas bus PO Bagong. Di atas bus gerak-gerik SAN yang terlihat gelisah memicu kekhawatiran penumpang lain. Mereka pun kembali melaporkan ke petugas.

Petugas kembali menanyakan tujuan perjalanan SAN. Namun perempuan itu tak bergeming. Dia tetap mengunci mulut dan tak memberikan penjelasan sedikitpun kepada petugas. Tak ingin memicu kegaduhan, petugas memutuskan mengajak SAN turun dari bus menuju kantor terminal. Selanjutnya petugas Dishub menghubungi Polres Tulungagung untuk membantu penyelidikan.

Kepada petugas Unit Perlindungan Perempuan dan Anak Polres Tulungagung, SAN baru menjelaskan identitasnya. Dia mengaku berasal dari Desa Sedah, Kecamatan Jenangan, Kabupaten Ponorogo. SAN mondok di Ponpes Darussalam Kampungdalem, Tulungagung dan berstatus pelajar kelas dua SMP.

“Namun dia menolak saat ditawarkan diantar kembali ke pondoknya,” kata Tofik Sukendar.

Polisi pun menghubungi salah satu pengurus pondok untuk menjemput SAN. Kepada polisi salah satu ustadzah pondok mengatakan bahwa SAN telah berulangkali mencoba kabur dari pondok. Dalam keseharian SAN juga tidak memakai cadar. Namun dalam pelariannya yang kelima kemarin, SAN memilih mengenakan cadar agar tak dikenali pengurus pondok.

Leave a Reply