Biadab! Renggut Banyak Korban Jiwa, Pelaku Bom Bunuh Diri Surabaya adalah Satu Keluarga

0
64

Berita Gaya.com – Jakarta– Aksi bom bunuh diri di 3 lokasi Gereja yang berada di Surabaya sungguh menyisakan duka mendalam. Akibat aksi biadab tersebut, beberapa orang tak bersalah menjadi korban tewas dan luka-luka. Mirisnya, para pelaku di 3 lokasi Gereja yang berbeda tersebut merupakan satu keluarga.

Seperti diketahui aksi bom bunuh diri terjadi di 3 titik berbeda yang keseluruhannya merupakan Gereja, Minggu (13/05/18). Bom pertama meledak sekitar pukul 07.30 WIB di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela di Jalan Ngagel Madya Utara, Surabaya. Selang sekitar lima menit kemudian bom kedua meledak di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya di Jalan Arjuno dan tidak lama kemudian bom meledak di gereja GKI di jalan Diponegoro.

Akibat bom yang meledak dalam kurun waktu berdekatan tersebut, sejumlah orang tak bersalah menjadi korban. Polda Jatim menyebutkan hingga saat ini korban tewas berjumlah 13 orang. Sementara korban yang mengalami luka-luka dan masih dalam perawatan berjumlah 43 orang.

“Update (korban bom gereja) Surabaya, (korban tewas) 13. Tujuh dari masyarakat, 6 (pelaku) yang satu keluarga, 43 luka” kata Kabid Humas Polda Jatim Kombes Frans Barung Mangera di lokasi ledakan bom Rusunawa Wonocolo, Taman, Sidoarjo, Senin (14/5/2018) dini hari.

Adapun identitas para pelaku diduga kuat ialah satu keluarga. Hal tersebut diungkapkan langsung oleh Kapolri Jenderal Tito Karnavian, berdasarkan hasil investigasi polri, Minggu (13/5/2018). Menurut Kapolri, pelaku yang menyerang di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya yang menggendarai Mobil Avanza adalah si kepala keluarga, bernama Dita Supriyanto. Dita merupakan otak bom bunuh diri yang tercatat sebagai warga Rungkut, Surabaya.

Dita melakuakn serangan bom bunuh diri dengan cara menabrakkan mobil yang dikemudikannya ke Gereja Pantekosta. Sebelum melakukan aksi biadabnya tersebut, Dita terlebih dahulu mengantar isteri dan dua anak perempuannya di Gereja GKI Jalan Diponegoro. Ibu dan kedua anak perempuannya tersebut memakai sabuk bom yang dililitkan ke pinggangnya.

“Isterinya yang diduga meninggal bernama Puji Kuswati. Kemudian anaknya yang perempuan berumur 12 tahun dan Pamela Rizkita (9 tahun),” ujar kapolri.

Di lokasi ledakan ketiga di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela, kata Kapolri, pelakuanya adalah dua laki-laki yang juga merupakan putera dari Dita.

“Putera dari pak Dita, yang satu namanya Yusuf Fadil, usianya 18 tahun. Dan Firman, usianya 16 tahun,” jelas Kapolri.

Leave a Reply