Sidang Perkara Fredrich Yunadi Digelar, Jaksa Penuntut Umum KPK Beberkan Kronologis dr Bimanesh Manipulasi Data Medis Setya Novanto

0
68

Berita Gaya.com – Jakarta– Kasus manipulasi data medis Setya Novanto untuk menghalangi penyidik KPK atas kasus korupsi pengadaan E-KTP yang menjeratnya, berbuntut pada penetapan status terdakwa terhadap Fredrich Yunadi dan tersangka terhadap Dokter Bimanesh Sutarjo. Pada sidang perkara Fredrich sebagai terdakwa di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, diungkap pula kronologis peran Bimanesh oleh Jaksa Penuntut Umum KPK Kresno Anto Wibowo saat membacakan dakwaan.

Dalam persidangan kasus Fredrich Yunadi, Kamis 8 Februari 2018, Kresno membeberkan pula kronologis peran serta Dokter Bimanesh memanipulasi data medis Setya Novanto melalui membacakan dakwaan.

Menurut Jaksa Kresno, pada 16 November 2017 sekitar pukul 11.00 WIB, Fredrich menghubungi Bimanesh agar Setya Novanto bisa merawat inap di RS Medika Permata Hijau dengan diagnosis menderita beberapa penyakit. “Salah satunya hipertensi,” kata Jaksa Kresno Anto Wibowo.

Siangnya, masih di hari itu juga, sekitar pukul 14.00 WIB, Fredrich menemui dokter Bimanesh Sutarjo di kediamannya di Apartemen Botanica Tower 3/3A Jalan Teuku Nyak Arief Nomor 8 Simprug, Jakarta Selatan.Ia ingin memastikan agar Setya Novanto dirawat inap di RS Medika Permata Hijau. Fredrich memberi foto data rekam medik Setya Novanto di RS Premier Jatinegara yang difoto beberapa hari sebelumnya. “Padahal tidak ada surat rujukan dari RS Premier Jatinegara untuk dilakukan rawat inap terhadap Setya Novanto di rumah sakit lain,” tambah jaksa Kresno.

Bimanesh pun menyanggupi meski tahu Setya Novanto sedang berkasus di KPK. Bimanesh lalu menghubungi dr. Alia yang saat itu menjabat sebagai Plt. Manajer Pelayanan Medik RS Medika Permata Hijau melalui telepon agar disiapkan ruang VIP rawat inap atas nama Setya Novanto yang direncanakan akan masuk rumah sakit dengan diagnosis penyakit hipertensi berat. Bimanesh sendiri belum pernah melakukan pemeriksaan fisik terhadap Setnov.

Bimanesh juga menyampaikan kepada dr. Alia bahwa dirinya sudah menghubungi dokter lainnya, yakni dr. Mohammad Toyibi dan dr. Joko Sanyoto untuk melakukan perawatan bersama terhadap Setya Novanto. Padahal kedua dokter tersebut tidak pernah diberitahukan oleh Bimanesh.

Dokter Alia menindaklanjuti permintaan Bimanesh dan menghubungi Direktur RS Medika Permata Hijau dr. Hafil Budianto Abdulgani untuk minta persetujuan rawat inap untuk Setya Novanto. Namun dr. Hafil mengatakan agar tetap sesuai prosedur yang ada yaitu melalui Instalasi Gawat Darurat (IGD) terlebih dahulu untuk dievaluasi, baru nanti bisa dirujuk ke dokter spesialis oleh dokter yang bertugas di IGD. Permintaan dr. Bimanesh itu juga disampaikan dr. Alia kepada dr. Michael Chia Cahaya yang saat itu bertugas sebagai dokter jaga di IGD. Alia menyampaikan, akan masuk pasien dari dr Bimanesh Sutarjo bernama Setya Novanto dengan diagnosis panyakit hipertensi berat.

Pukul 17.00 WIB, Fredrich memerintahkan Achmad Rudiansyah stafnya kantornya, menelpon dr. Alia untuk mengecek kamar VIP di RS Medika Permata Hijau. Pukul 17.45 WIB Rudiansyah dan dr Alia Shahab melakukan pengecakan kamar VIP 323 yang sudah dipesan untuk Setya Novanto

Menurut Jaksa, pada pukul 17.30 WIB, Fredrich datang ke RS Medika Permata Hijau menemui dr. Michael di ruang IGD meminta dibuatkan surat pangantar rawat inap atas nama Setya Novanto. Kali ini dengan diagnosis kecelakaan mobil. “Padahal saat itu Setnov sedang berada di Gedung DPR barsama dangan Reza Pahlevi dan Muhammad Hilman Mattauch (wartawan Metro TV). Atas permintaan tarsebut dr. Michael menolak,” kata jaksa. Penyebabnya adalah karena untuk mangeluarkan surat pengantar rawat inap dari IGD harus dilakukan pameriksaan dahulu terhadap pasien. Fredrich lalu menemui dr. Alia dan meminta agar alasan masuk rawat inap Setnov yang semula adalah diagnosis penyakit hipertensi diubah dangan diagnosis kecelakaan.

Pukul 18.30 WIB, dr. Bimanesh datang ke RS Medika Permata Hijau menemui dr. Michael menanyakan keberadaan Setya Novanto di ruang IGD. Michael menjawab, Setya Novanto belum datang dan hanya Fredrich selaku pengacara yang minta surat pangantar rawat Inap dari IGD dengan keterangan kecelakaan mobil namun ditolak dr. Michael karana belum mameriksa Setya Novanto.

Bimanesh lalu membuat sendiri surat pangantar rawat inap menggunakan form surat pasien baru IGD. Padahal Bimanesh bukan dokter jaga IGD. Pada surat pengantar rawat inap itu Bimanesh menuliskan diagnosis hipertensi, vertigo dan diabetes melitus sekaligus membuat catatan harian dokter yang merupakan catatan hasil pemeriksaan awal terhadap pasien. Padahal, Bimanesh belum pernah memeriksa Setya Novanto maupun tidak mendapatkan konfirmasi dari dokter yang menangani Setya Novanto sebelumnya dari RS Premier Jatinegara.

Pukul 18.45 WIB, Setya Novanto tiba di RS Medika Permata Hijau dan langsung dibawa ke kamar VIP 323 sesuai dengan Surat Pengantar Rawat Inap yang dibuat Bimanesh. Bimanesh memerintahkan perawat bernama Indri agar surat pengantar rawat inap dari IGD yang telah dibuatnya dibuang dan diganti baru dengan surat pengantar dari poli yang diisi oleh Bimanesh untuk pendaftaran pasien atas nama Setya Novanto di bagian administrasi rawat inap padahal sore itu bukan jadwal praktek dr. Bimanesh.

Begitu Setya Novanto rawat inap, Fredrich jumpa pers dan mengatakan tak mengetahui adanya kecelakaan mobil yang dialami Setya Novanto. Ia baru mendapat informasi Setya Novanti dirawat di RS Medika Permata Hijau dari Reza Pahlevi. Padahal beberapa jam sebelumnya Fredrich datang ke RS meminta agar Setya Novanto dirawat inap dengan permintaan yang terakhir dirawat karena kecelakaan Fredrich juga menyebut, Setya Novanto kondisinya berdarah-darah dengan benjolan di dahi sebesar bakpao.

Leave a Reply